Situs Sutresna Jawa

ikon-kaca-ngajeng

ikon-buku-tamu

ikon-penanggalan

ikon-piwulang-kautaman

ikon-puspawarna

ikon-pasinaon

ikon-referensi

ikon-naskah-kuno

ikon-cerkak

ikon-kesenian

ikon-galeria

ikon-lelagon

ikon-resep-masakan

ikon-download

Jumlah Pengunjung

5158493
Hari ini :Hari ini :622
Kemarin :Kemarin :1274
Minggu ini :Minggu ini :622
Bulan ini :Bulan ini :23252
s/d Hari ini :s/d Hari ini :5158493
Online : 13

Pagerank

Kesenian Tradhisional
᭵

 

23 nDolalak

pemain_ndolalak

 

DnDolalak termasuk tarian rakyat jenis slawatan yang pementasannya dilakukan secara berpasang-pasangan.
Kesenian ini tidak mengandung ceritera, jadi hanya merupakan tarian saja.
Tarian rakyat ini termasuk tua dan hampir punah, sehingga jarang sekali dijumpai.
Bahkan kelompok yang masih adapun jarang mengadakan pementasan. Berdasarkan keterangan para orang tua, tidak aktifnya kesenian ini adalah karena para pemuda sekarang tidak lagi tertarik pada tarian tersebut.
Mereka enggan mempelajarinya, sehingga kesenian ini tidak bisa diwariskan dari orang-orang tua kepada anak-anak muda sekarang.
Fungsi dari kesenian ini hanyalah sebagai hiburan atau tontonan biasa. Jumlah pendukung pementasan nDolalak adalah sekitar 34 orang dengan perincian 28 orang sebagai penari, dan 6 orang sebagai pemain instrumen musik dan vokalis.
Para penari nDolalak mengenakan kostum yang realistis, terdiri dari peci (kopiah), baju, celana dan tanpa rias muka.
Gerak tarian mereka mengambil dari jurus-jurus yang terdapat dalam pencak silat seperti sempok, ngecek dan keplek.
Posisi kaki ada yang terbuka ada pula yang tertutup.
Pertunjukan nDolalak biasanya menggunakan tempat di halaman rumah penduduk.
Alat musik yang dipakai adalah 3 buah terbang genjreng dan 1 jedor. Tarian ini dipentaskan pada malam hari dengan lama ± 4 jam, dari jam 21.00 hingga jam 01.00.
Para penari adalah para pria yang rata-rata berusia antara 20 - 35 tahun.
Kesenian ini menggunakan konsep pentas berbentuk arena dengan desain lantai lurus.
Kelompok pemusik berada di halaman di dalam lingkaran, di antara para penonton dan para penontonnya berdiri mengelilingi.
Pada masa lalu alat penerangan yang biasa dipergunakan adalah lampu keceran atau lampu triom, sedangkan sekarang orang lebih sering memakai lampu petromak.


 kds penutup

Wangsul Manginggil

 

  • < 22. Peksimoi
  • 24. Badui >

Situs Sutresna Jawa, Powered by Joomla!