Situs Sutresna Jawa

ikon-kaca-ngajeng

ikon-buku-tamu

ikon-penanggalan

ikon-piwulang-kautaman

ikon-puspawarna

ikon-pasinaon

ikon-referensi

ikon-naskah-kuno

ikon-cerkak

ikon-kesenian

ikon-galeria

ikon-lelagon

ikon-resep-masakan

ikon-download

Jumlah Pengunjung

5164328
Hari ini :Hari ini :247
Kemarin :Kemarin :1115
Minggu ini :Minggu ini :6457
Bulan ini :Bulan ini :29087
s/d Hari ini :s/d Hari ini :5164328
Online : 36

Pagerank

Kesenian Tradhisional
᭵
 
32 Gamelan Sekaten
sekaten_bonang
 
sekaten_saron

 

GGamelan Sekaten adalah perangkat gamelan yang paling dianggap berkaitan dengan upacara Islam dan diduga sudah ada sejak jaman MAJAPAHIT.
Kegiatan sekatenan sudah ada sejak jaman kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa pada pertengahan abad ke-16.
Tentang nama atau asal - usul nama 'sekaten' ada beberapa pendapat.
Nama Sekaten dikaitkan dengan kata syahadatain, kalimat syahadat yang harus diucapkan seseorang ketika masuk agama Islam.
Nama Sekaten juga ada yang mengaitkan dengan jarwa dhosok dalam bahasa Jawa 'sisig (ing) ati' yang, katanya menggambarkan sesaknya perasaan orang-orang yang berdesakan datang begitu mendengar suara gamelam yang aneh.
Nama sekaten juga ada yang mengaitkan dengan ukuran satuan berat yang digunakan oleh masyarakat Jawa masa lampau: se(satu) kati.
Hal itu dihubungkan dengan ukuran besarnya gamelan dan paling berat di antara gamelan yang ada(Supanggah, 2002: 47-48).
Di Kraton Surakarta gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari sengaja dibuat dalam ukuran besar untuk menghasilkan suara yang keras sehingga terdengar dari jarak jauh untuk menarik rakyat sehubungan dengan sarana dakwah agama Islam.
Ricikan gamelan Sekaten di Surakarta adalah:
a. satu rancak bonang terdiri dari ricikan bonang dan penembung ditabuh
oleh tiga orang pengrawit
b. dua rancak saron demung
c. empat rancak saron barung, dua rancak saron penerus
d. satu rancak kempyang, sebuah bedhug, sepasang gong besar pada satu
gayor
Semua gamelan tersebut berlaras pelog dan dibuat dari bahan perunggu. Adapun gending-gending sekatenan yang harus disajikan adalah ladrang Rambu, ladrang Rangkung, ladrang Barang Miring, ladrang Glana.
Gamelan Sekaten dibunyikan sekali dalam setahun yaitu pada upacara memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. pada bulan Mulud (Jawa).
Di keraton Surakarta gamelan ini menyertai prosesi gunungan dimulai dari bangsal Smarakata, melewati Sitinggil, alun-alun utara, sampai di Halaman Masdjid Agung.

Sumber : Majalah Sasmita - Prof. Timbul Haryono


 kds penutup

Wangsul Manginggil

 

  • < 31. Ludruk

Situs Sutresna Jawa, Powered by Joomla!